Helloo, para blogger dan novelis! Kali ini aku mau share
resensi novel Hujan garapan novelis kondang Tere Liye. Kenapa aku share info
tentang ini? Karenaa... em... kenapa, ya? Karena novelnya bagus, haha *jawaban
klise. Oke, karena menurutku novel ini beda dari yang lain. Awalnya aku bingung
mau beli novel apa, yang jelas pengen beli novelnya Tere Liye, karena aku yakin
di dalam novel Tere Liye pasti ada hal baru dan banyak hikmah yang bisa
diambil, jadi nggak sekadar cinta-cintaan yang receh gitu, jadi... duitnya
nggak sia-sia buat beli novel, hehe.
Well, novel Hujan ini menceritakan tentang kisah di masa
depan. Kehidupan di tahun 2042. Latar tempatnya nggak diceritakan secara
gamblang, sih, cuma kalau dari ciri-cirinya—negara tropis—itu masih di
Indonesia. Di sini Tere Liye berhasil ngebawa aku seolah-olah ada di masa depan.
Kemajuan teknologinya, kalau dilogika sih cukup nyambung. Misal, di novel ini
diceritakan tentang kamera terbang, sehingga orang-orang nggak perlu lagi
ngacungin tongsis kalau mau selfie, atau mobil terbang yang hampir sama kayak
di cerita Doraemon Movie “Stand By Me”, atau juga kemajuan transportasi yang
sudah menyamai negara-negara Eropa, jadi seolah 2017-nya European Country itu
adalah 2042-nya Indonesia, haha. Kalau dinalar, novel ini ada benarnya.
Kecanggihan teknologi semakin lama semakin berkembang, contohnya saja teknologi
komunikasi. Tahun 2006, HP di rumahku adalah HP nokia berlayar kuning yang cuma
bisa buat sms, nelpon, dan main game ular. Tahun 2009, rata-rata masyarakat
Indonesia sudah memegang HP dengan kamera dan layar warna-warni. Tahun 2014, HP
layar sentuh sudah mulai beredar, meski internet belum begitu marak saat itu.
2016, hampir semua orang sudah menyanding smartphone dan internet sudah menjadi
hal pokok di dalamnya. Ini membuktikan kecanggihan teknologi yang menunjukkan
perkembangan yang drastis hanya dalam kurun waktu 10 tahun. Bukan menjadi tidak
mungkin, di tahun 2042—25 tahun kemudian—ponsel bisa menghasilkan layar
hologram, dan antara penelfon dengan yang ditelfon bisa melihat satu sama lain
layaknya video call melalui layar itu, seperti yang diceritakan Tere Liye di
novel ini. Semua logika itu membuat aku langsung bergumam, “Benar juga, ya?”
dan kemudian membayangkan kehidupan di masa mendatang bisa jadi seperti itu.
Namun yang menarik bukan hanya masalah teknologinya, melainkan
di dalam novel ini juga diceritakan tentang sebuah bencana besar yang
benar-benar melululantahkan dua benua. Ini lebih dahsyat dari gunung Krakatau
yang berhasil memisahkan Jawa dan Sumatera. Skalanya 8 VEI, atau skala paling
mematikan yang pernah ada. Yang menyebabkan perubahan iklim besar-besaran di
dunia, bahkan hingga memunculkan salju di negara tropis. Kesan membaca novel
ini, aku jadi semakin kagum pada para ilmuwan, terutama ilmuwan yang bergerak
di bidang teknologi. Mereka bisa menciptakan hal-hal yang mereka mau, seperti
yang dikatakan Soke Bahtera, tokoh utama di novel ini, “Teknologi selalu bisa
mengatasi masalah apa pun. Ilmuwan-ilmuwan terkemuka di dunia sedang menyiapkan
banyak rencana alternatif.” (hlm. 181)
Selain itu novel ini juga banyak memberikan wawasan tentang
alam dan iklim. Itu menyenangkan. Belajar ilmu pengetahuan alam yang dirangkum
dalam novel. Namun yang sedikit aku sayangkan adalah di bagian akhir, seakan
memaksakan kehendak cerita. Seakan harus diakhiri dengan kebahagiaan. Dan
logikaku belum sampai ketika Tere Liye menjelaskan tentang mesin modifikasi
ingatan yang tetap berjalan, dan Lail berhasil menghapus benang merah, atau
kenangan buruk itu, sehingga ia masih bisa ingat terhadap Esok, ini sedikit
membingungkan. Dan susah juga untuk dibayangkan seperti apa jadinya. Tapi
overall, di sini pesan utama Tere Liye adalah mengajak pembaca untuk lebih berdamai
pada kenyataan pahit. Bukan membuang ingatan, melainkan tetap menerimanya
dengan lapang, dan menjadikannya sebuah pelajaran. Itu saja. Pesan moral yang
hampir selalu Tere Liye tekankan dalam setiap novelnya.
Begitulah. Semoga dapat bermanfaat.
Aku nangis banget baca akhir novel ini T_T
BalasHapus