3 Mei 2017

Komentar Soal Novel "Hujan" Tere Liye

Helloo, para blogger dan novelis! Kali ini aku mau share resensi novel Hujan garapan novelis kondang Tere Liye. Kenapa aku share info tentang ini? Karenaa... em... kenapa, ya? Karena novelnya bagus, haha *jawaban klise. Oke, karena menurutku novel ini beda dari yang lain. Awalnya aku bingung mau beli novel apa, yang jelas pengen beli novelnya Tere Liye, karena aku yakin di dalam novel Tere Liye pasti ada hal baru dan banyak hikmah yang bisa diambil, jadi nggak sekadar cinta-cintaan yang receh gitu, jadi... duitnya nggak sia-sia buat beli novel, hehe.


Well, novel Hujan ini menceritakan tentang kisah di masa depan. Kehidupan di tahun 2042. Latar tempatnya nggak diceritakan secara gamblang, sih, cuma kalau dari ciri-cirinya—negara tropis—itu masih di Indonesia. Di sini Tere Liye berhasil ngebawa aku seolah-olah ada di masa depan. Kemajuan teknologinya, kalau dilogika sih cukup nyambung. Misal, di novel ini diceritakan tentang kamera terbang, sehingga orang-orang nggak perlu lagi ngacungin tongsis kalau mau selfie, atau mobil terbang yang hampir sama kayak di cerita Doraemon Movie “Stand By Me”, atau juga kemajuan transportasi yang sudah menyamai negara-negara Eropa, jadi seolah 2017-nya European Country itu adalah 2042-nya Indonesia, haha. Kalau dinalar, novel ini ada benarnya. Kecanggihan teknologi semakin lama semakin berkembang, contohnya saja teknologi komunikasi. Tahun 2006, HP di rumahku adalah HP nokia berlayar kuning yang cuma bisa buat sms, nelpon, dan main game ular. Tahun 2009, rata-rata masyarakat Indonesia sudah memegang HP dengan kamera dan layar warna-warni. Tahun 2014, HP layar sentuh sudah mulai beredar, meski internet belum begitu marak saat itu. 2016, hampir semua orang sudah menyanding smartphone dan internet sudah menjadi hal pokok di dalamnya. Ini membuktikan kecanggihan teknologi yang menunjukkan perkembangan yang drastis hanya dalam kurun waktu 10 tahun. Bukan menjadi tidak mungkin, di tahun 2042—25 tahun kemudian—ponsel bisa menghasilkan layar hologram, dan antara penelfon dengan yang ditelfon bisa melihat satu sama lain layaknya video call melalui layar itu, seperti yang diceritakan Tere Liye di novel ini. Semua logika itu membuat aku langsung bergumam, “Benar juga, ya?” dan kemudian membayangkan kehidupan di masa mendatang bisa jadi seperti itu. 

Namun yang menarik bukan hanya masalah teknologinya, melainkan di dalam novel ini juga diceritakan tentang sebuah bencana besar yang benar-benar melululantahkan dua benua. Ini lebih dahsyat dari gunung Krakatau yang berhasil memisahkan Jawa dan Sumatera. Skalanya 8 VEI, atau skala paling mematikan yang pernah ada. Yang menyebabkan perubahan iklim besar-besaran di dunia, bahkan hingga memunculkan salju di negara tropis. Kesan membaca novel ini, aku jadi semakin kagum pada para ilmuwan, terutama ilmuwan yang bergerak di bidang teknologi. Mereka bisa menciptakan hal-hal yang mereka mau, seperti yang dikatakan Soke Bahtera, tokoh utama di novel ini, “Teknologi selalu bisa mengatasi masalah apa pun. Ilmuwan-ilmuwan terkemuka di dunia sedang menyiapkan banyak rencana alternatif.” (hlm. 181)

Selain itu novel ini juga banyak memberikan wawasan tentang alam dan iklim. Itu menyenangkan. Belajar ilmu pengetahuan alam yang dirangkum dalam novel. Namun yang sedikit aku sayangkan adalah di bagian akhir, seakan memaksakan kehendak cerita. Seakan harus diakhiri dengan kebahagiaan. Dan logikaku belum sampai ketika Tere Liye menjelaskan tentang mesin modifikasi ingatan yang tetap berjalan, dan Lail berhasil menghapus benang merah, atau kenangan buruk itu, sehingga ia masih bisa ingat terhadap Esok, ini sedikit membingungkan. Dan susah juga untuk dibayangkan seperti apa jadinya. Tapi overall, di sini pesan utama Tere Liye adalah mengajak pembaca untuk lebih berdamai pada kenyataan pahit. Bukan membuang ingatan, melainkan tetap menerimanya dengan lapang, dan menjadikannya sebuah pelajaran. Itu saja. Pesan moral yang hampir selalu Tere Liye tekankan dalam setiap novelnya.

Begitulah. Semoga dapat bermanfaat.

1 komentar: