TAHAP SEMIFINAL
Alhamdulillah, Allah mengizinkan
saya lolos tahap interview. Untuk yang lolos, kami dikirimi email berupa
instruksi untuk mengerjakan tugas semifinal. Kurang lebih seperti ini tugasnya
:
Untuk tugas pastinya tiap tahun
akan beda. Tiap peserta pun topiknya beda-beda, meski topik umumnya tetap
tentang Jogja. Dan karena keahlianku membuat video, so aku pilih bikin video,
sementara teman-teman yang lain beberapa pada bikin artikel. Menurutku, tugas
ini cukup menantang, karena kami harus mengerjakan tugas ini dalam waktu empat
hari aja. Itu pun hari pertamanya masih meraba-raba, konsep seperti apa yang
mau kita ambil. Kami hanya boleh bertanya ke panitia via WA maksimal 2
pertanyaan dari jam 8-9 pagi. Kalau lebih dari jam 9, dan kalau sekiranya
jawabannya sudah ada di instruksi, pertanyaan kami nggak akan dijawab. Akhirnya,
bermodalkan kemantapan, aku mulai go extra miles dengan mendatangi Dinas
Pendidikan dan Dinas Pariwisata, karena data kami harus data yang valid,
jadinya aku memutuskan untuk langsung mendatangi kantor-kantor kedinasan itu.
Yaa, meski awalnya sempat pesimis, karena tahu bayangan di dinas pasti bakal
ribet surat menyurat, belum tentu bisa ditanggapi dalam waktu satu atau dua
hari saja. Padahal kami butuhnya cepat. Tapi aku coba dulu, barangkali ada
jalan. Alhamdulillah, karena aku jujur tentang acara ini dan bilang kalau kami
dikasih waktu mepet, akhirnya untuk Dinas Pariwisata aku berhasil melobi dan
dapat wawancara sama bagian pemasaran di hari kedua. Sementara untuk Dinas
Pendidikan aku hanya dapat datanya saja, tapi nggak dapat wawancara via kamera.
Tapi nggak apalah, yang penting udah ada dua informan (minimal harus 2
informan).
Aku bener-bener ngerasain GO
EXTRA MILES banget itu ketika hari Kamis, 12 April 2018. Mulai dari sebelum
subuh aku udah bangun dan goes dari Piyungan ke daerah Ngipik (Banguntapan),
solat subuh di masjid sekitar sana, terus cabut bablas ke Parangtritis. Ya, di
sana aku ngambil gambar sunrise, sama suasana Pantai Parangtritis untuk
menggambarkan pariwisata Jogja. Kenapa nggak ambil gambar yg dulu2 aja, Kik?
Ya, aku emang punya beberapa gambar video di laptopku, bisa buat tambah2 gambar
sebenarnya, tapi aku pengen karya ini bener-bener murni aku kerjakan dalam
waktu 3 hari. Toh aturannya juga begitu, karya harus dikerjakan dalam rentang
waktu semifinal itu. Khawatirnya, kalau ada video yang pengambilannya di luar
itu, nanti bakal kena diskualifikasi. Tapi ternyata, ada salah seorang temanku
yang dia nggak kena. Yaa, mungkin karena ada kelonggaran, entahlah. Lanjut dari
Parangtritis, aku langsung pulang ke Piyungan, mandi (karena tadi blm sempat
mandi, wkwkwk), terus cabut ke Dinas Pariwisata. Ternyata dari pihak dinasnya, ibu
yg mau diwawancara lagi keluar. Yaudah deh, aku bareng dua temanku (youtuber)
nunggu di Malioboro sambil ngadem (letak DinPar DIY ada di Jalan Malioboro). Begitu
udah jam 1 siang, kami langsung nemuin ibuknya. Alhamdulillah ibuknya sudah
balik. Langsung deh take untuk wawancara. Take ini lumayan lama, soalnya aku
harus nunggu ibuknya nyelesaiin ngeprint data-data dulu. Selesai take jam 2
siang. Kami langsung ke masjid buat salat Dzuhur. Jam setengah 3 langsung
melesat ke Jalan Kaliurang di ujung utara sana, tepatnya di Bumi Merapi (dekat
kawasan Museum Merapi). Sampai sana udah Ashar, jadi kami salat dulu. Selepas
Ashar kami langsung take sampai sore menjelang Maghrib. Di situ, subhanallah,
posisiku udah lemes bingiitss. Iyes, karena waktu itu aku lagi puasa, dan
seharian dari ujung selatan Jogja sampai utara Jogja belum istirahat, wkwkwk. Setelah
bebaringan di gazebo beberapa menit buat ngumpulin tenaga, akhirnya kita
langsung cabut ke warung makan SS buat ngisi perut sekalian buka, hehe.
Malam harinya setelah pulang
sampai rumah, aku istirahat sebentar, bercandaan sama keluarga, dan akhirnya
ketiduran 1 jam. Begitu terbangun, aku langsung pegang laptop dan langsung
ngedit sampai subuh. Kebayang nggak sih rasanya gaes? Wkwkwk. Habis salat
Subuh, enggak langsung tidur dong, tapi meluncur ke kota buat ambil kekurangan
gambar, yaitu suasana kampus, mahasiswa, dan tugu Jogja. Untungnya adek mau
nemenin, jadi nggak sendiri deh :D. Begitu selesai, pulang, edit lagi sampai
finishing. Yang bikin drama itu, waktu mau upload video. Waktu udah mepet
banget, dan proses export video lamanya minta ampun. Mungkin karena kamera yg
aku pake punya temenku (kamera bagus cuy), jadi resolusinya lebih gedhe mungkin
ya. Waktu itu udah bener-bener hopeless nggak bisa ngumpul sebelum deadline
(jam 12 siang). Akhirnya aku bener-bener pasrah, cuma bisa berdoa, dzikir, baca
sholawat, sambil gigit bibir cemas. Waktu tinggal setengah jam lagi, sementara
proses export belum ada 25 %, belum lagi proses upload nanti berapa menit.
Tiba-tiba aku inisiatif buat ke Balai Desa, karena di sana ada WiFi, jadi misal
export video udah selesai bisa langsung WiFian. Waktu itu aku suruh nemenin
ibuk. Bahkan yg bawa motor ibuk, aku di belakang sambil pegang laptop yg masih
kebuka. Begitu sampai Balai Desa, masyaallah, di luar ekspektasi! Exportan
berjalan kenceng. Begitu juga proses upload video ke youtube (hasilnya bisa
dilihat di link ini). Masyaallah,
ini pasti karena doa seorang ibu. Ya, ibu ikut cemas waktu itu, dan alhasil aku
cuma suruh doain ibuk, kalau ini memang jalan yang terbaik, semoga dipermudah.
Dan alhamdulillah aku selesai upload pukul 12 kurang 7 menit kalau nggak salah.
Segala puji bagi Allah.
Esok harinya adalah waktu
presentasi. Lagi-lagi ada drama yang terjadi. Aku dateng paaasss bgt waktu
register ditutup. Telat 1 menit aja, mungkin udah dianggap gugur, wkwkwk. (*eh,
tapi ada yg datang terlambat karena ban bocor tetep dibolehin masuk kok,
mungkin pengecualian kali ya, karena ada halangan). Tapi saran banget buat kamu
yg mau ikut, datang jauh2 hari. Eh, maksudnya jauh2 jam, biar nggak kemrungsung *jawane metu. Akhirnya, kami
yang berjumlah 21 orang, mulailah dipanggili satu per satu untuk presentasi.
Jadi ternyata presentasinya itu kayak interview kemarin, enggak di hadapan
banyak orang. And we had to present it by English. Sambil nunggu giliran, aku
banyak ngobrol sama Fadhila, sama Mbak Gina, dan beberapa peserta lainnya. Oh
ya, sembari nunggu aku nyempatin fotokopi satu dokumen yang kurasa lumayan
penting. Begitu nyari di dua tempat fotokopian ternyata tutup semua. Oke, nggak
boleh nyerah, Eki, cari lagi! Waktu masih banyak. Kamu nomor urut 20 kok. Dan
akhirnya taraaa, nemu fotokopian di belakang Jogja Tronik. Terimakasih buat Bapak
tukang becak yang sudah kasih info :) . Begitu selesai fotokopi, waktu
perjalanan balik ke lokasi, mendadak motorku macet. Ternyata rantainya lepas.
Aku langsung kebingungan dong, dan akhirnya langsung aja deh aku titipin itu
motor ke mbak-mbak yang jual jus buah. Dan aku ke Balai Pemuda nya naik Go-Jek.
Singkat cerita, aku sampai di
Balai Pemuda dgn selamat dan dapat giliran habis Asar. Hal-hal yang aku inget
waktu presentasi itu adalah ketika aku ditanyain beberapa hal terkait videoku.
Ini asli apa nggak? Kamu sendiri yang buat? Coba perlihatkan mana video
mentahannya. Karena semua original aku yang buat, alhamdulillah aku bisa
tunjukin semua bukti. Termasuk ketika dicek tanggalnya, aku jujur kalau itu aku
buat 3 hari full. Nggak ada yg file lama, termasuk timelapse sunrise di Kretek
Parangtritis, semua fresh masih baru. Waktu ditanya, “Did you feel this
challenge needs ‘extra miles’?” Aku jawab, “Yeah. Because I never did this
before. I mean, before Subuh I had to go to Parangtritis to take sunrise footage,
then, in the afternoon I went to Kaliurang Street for taking another scene, and
in the night I had to edit the video until Subuh again. I didn’t sleep for this
project. Oh ya, I slept just for 1 hour. And in the next Friday morning, I had
to take the other pictures for completing my video.”. Dari sesi ini ada juga
pertanyaan tentang promoting Jogja in international level, kira-kira efektif
nggak mempromosikan Jogja melalui video di Youtube? Ya aku jawab cukup efektif,
kalau video itu bisa dibuat secara konsisten dan tidak hanya satu video saja,
artinya harus banyak video dan kalau bisa ceritanya berlanjut. Ini berdasarkan
pengalamanku bikin video tentang perjalanan di Malaysia. Aku bikin part 1
sampai part 4 dan ternyata banyak yang nonton.
Setelah presentasi selesai, kami
diizinkan pulang. Nah, di perjalanan pulang ini aku menemukan satu pelajaran
penting dari salah seorang temen yang tadi lumayan banyak ngobrol sama aku.
Namanya Fad, berasal dari kata Fadhila. Berhubung motorku aku titipin di tukang
jus, akhirnya aku ke tukang jus nebeng Fad. Begitu sampai, aku nyuruh Fad
pulang, biar nanti aku dijemput sama Bapak aja, soalnya kalau mau benerin motor
udah banyak bengkel yang tutup karena udah maghrib. Tapi Fad belum mau pulang.
Katanya mending dibenerin aja, cari bengkel yang masih buka. Karena Fad mau
nemenin, akhirnya maghrib itu kita muter-muter cari bengkel. Begitu nemu
bengkel di deket lampu merah, rencana mau bawa motor ke bengkel itu, entah
kenapa aku tiba-tiba inisiatif buat benerin sendiri dulu. Nanti kalau nggak
bisa, baru dibawa ke bengkel. Begitu aku coba beberapa kali, ternyata bisa.
Rantainya lepas nggak parah, jadi gampang benerinnya. Waktu itu aku bener-bener
ngerasa bersyukur banget. Satu ilmu baru tentang benerin rantai motor. Terlebih
dengan adanya Fad, aku bener-bener ngerasa terbantu. Padahal dia termasuk orang
yang baru aku kenal, tapi dia begitu tulus nolong orang. Akhirnya malam itu aku
tutup dengan gumaman rasa syukur, terimakasih Allah... terimakasih Fad :)
bersambung...
Sebelumnya : Seleksi Interview PPAN 2018
Selanjutnya : Seleksi Final PPAN 2018, Menegangkan!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar