13 Mei 2018

Seleksi Semifinal PPAN, Dari Parangtritis ke Kaliurang (PART 3)


TAHAP SEMIFINAL

Alhamdulillah, Allah mengizinkan saya lolos tahap interview. Untuk yang lolos, kami dikirimi email berupa instruksi untuk mengerjakan tugas semifinal. Kurang lebih seperti ini tugasnya :


Untuk tugas pastinya tiap tahun akan beda. Tiap peserta pun topiknya beda-beda, meski topik umumnya tetap tentang Jogja. Dan karena keahlianku membuat video, so aku pilih bikin video, sementara teman-teman yang lain beberapa pada bikin artikel. Menurutku, tugas ini cukup menantang, karena kami harus mengerjakan tugas ini dalam waktu empat hari aja. Itu pun hari pertamanya masih meraba-raba, konsep seperti apa yang mau kita ambil. Kami hanya boleh bertanya ke panitia via WA maksimal 2 pertanyaan dari jam 8-9 pagi. Kalau lebih dari jam 9, dan kalau sekiranya jawabannya sudah ada di instruksi, pertanyaan kami nggak akan dijawab. Akhirnya, bermodalkan kemantapan, aku mulai go extra miles dengan mendatangi Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata, karena data kami harus data yang valid, jadinya aku memutuskan untuk langsung mendatangi kantor-kantor kedinasan itu. Yaa, meski awalnya sempat pesimis, karena tahu bayangan di dinas pasti bakal ribet surat menyurat, belum tentu bisa ditanggapi dalam waktu satu atau dua hari saja. Padahal kami butuhnya cepat. Tapi aku coba dulu, barangkali ada jalan. Alhamdulillah, karena aku jujur tentang acara ini dan bilang kalau kami dikasih waktu mepet, akhirnya untuk Dinas Pariwisata aku berhasil melobi dan dapat wawancara sama bagian pemasaran di hari kedua. Sementara untuk Dinas Pendidikan aku hanya dapat datanya saja, tapi nggak dapat wawancara via kamera. Tapi nggak apalah, yang penting udah ada dua informan (minimal harus 2 informan).


Aku bener-bener ngerasain GO EXTRA MILES banget itu ketika hari Kamis, 12 April 2018. Mulai dari sebelum subuh aku udah bangun dan goes dari Piyungan ke daerah Ngipik (Banguntapan), solat subuh di masjid sekitar sana, terus cabut bablas ke Parangtritis. Ya, di sana aku ngambil gambar sunrise, sama suasana Pantai Parangtritis untuk menggambarkan pariwisata Jogja. Kenapa nggak ambil gambar yg dulu2 aja, Kik? Ya, aku emang punya beberapa gambar video di laptopku, bisa buat tambah2 gambar sebenarnya, tapi aku pengen karya ini bener-bener murni aku kerjakan dalam waktu 3 hari. Toh aturannya juga begitu, karya harus dikerjakan dalam rentang waktu semifinal itu. Khawatirnya, kalau ada video yang pengambilannya di luar itu, nanti bakal kena diskualifikasi. Tapi ternyata, ada salah seorang temanku yang dia nggak kena. Yaa, mungkin karena ada kelonggaran, entahlah. Lanjut dari Parangtritis, aku langsung pulang ke Piyungan, mandi (karena tadi blm sempat mandi, wkwkwk), terus cabut ke Dinas Pariwisata. Ternyata dari pihak dinasnya, ibu yg mau diwawancara lagi keluar. Yaudah deh, aku bareng dua temanku (youtuber) nunggu di Malioboro sambil ngadem (letak DinPar DIY ada di Jalan Malioboro). Begitu udah jam 1 siang, kami langsung nemuin ibuknya. Alhamdulillah ibuknya sudah balik. Langsung deh take untuk wawancara. Take ini lumayan lama, soalnya aku harus nunggu ibuknya nyelesaiin ngeprint data-data dulu. Selesai take jam 2 siang. Kami langsung ke masjid buat salat Dzuhur. Jam setengah 3 langsung melesat ke Jalan Kaliurang di ujung utara sana, tepatnya di Bumi Merapi (dekat kawasan Museum Merapi). Sampai sana udah Ashar, jadi kami salat dulu. Selepas Ashar kami langsung take sampai sore menjelang Maghrib. Di situ, subhanallah, posisiku udah lemes bingiitss. Iyes, karena waktu itu aku lagi puasa, dan seharian dari ujung selatan Jogja sampai utara Jogja belum istirahat, wkwkwk. Setelah bebaringan di gazebo beberapa menit buat ngumpulin tenaga, akhirnya kita langsung cabut ke warung makan SS buat ngisi perut sekalian buka, hehe.

Malam harinya setelah pulang sampai rumah, aku istirahat sebentar, bercandaan sama keluarga, dan akhirnya ketiduran 1 jam. Begitu terbangun, aku langsung pegang laptop dan langsung ngedit sampai subuh. Kebayang nggak sih rasanya gaes? Wkwkwk. Habis salat Subuh, enggak langsung tidur dong, tapi meluncur ke kota buat ambil kekurangan gambar, yaitu suasana kampus, mahasiswa, dan tugu Jogja. Untungnya adek mau nemenin, jadi nggak sendiri deh :D. Begitu selesai, pulang, edit lagi sampai finishing. Yang bikin drama itu, waktu mau upload video. Waktu udah mepet banget, dan proses export video lamanya minta ampun. Mungkin karena kamera yg aku pake punya temenku (kamera bagus cuy), jadi resolusinya lebih gedhe mungkin ya. Waktu itu udah bener-bener hopeless nggak bisa ngumpul sebelum deadline (jam 12 siang). Akhirnya aku bener-bener pasrah, cuma bisa berdoa, dzikir, baca sholawat, sambil gigit bibir cemas. Waktu tinggal setengah jam lagi, sementara proses export belum ada 25 %, belum lagi proses upload nanti berapa menit. Tiba-tiba aku inisiatif buat ke Balai Desa, karena di sana ada WiFi, jadi misal export video udah selesai bisa langsung WiFian. Waktu itu aku suruh nemenin ibuk. Bahkan yg bawa motor ibuk, aku di belakang sambil pegang laptop yg masih kebuka. Begitu sampai Balai Desa, masyaallah, di luar ekspektasi! Exportan berjalan kenceng. Begitu juga proses upload video ke youtube (hasilnya bisa dilihat di link ini).  Masyaallah, ini pasti karena doa seorang ibu. Ya, ibu ikut cemas waktu itu, dan alhasil aku cuma suruh doain ibuk, kalau ini memang jalan yang terbaik, semoga dipermudah. Dan alhamdulillah aku selesai upload pukul 12 kurang 7 menit kalau nggak salah. Segala puji bagi Allah.

Esok harinya adalah waktu presentasi. Lagi-lagi ada drama yang terjadi. Aku dateng paaasss bgt waktu register ditutup. Telat 1 menit aja, mungkin udah dianggap gugur, wkwkwk. (*eh, tapi ada yg datang terlambat karena ban bocor tetep dibolehin masuk kok, mungkin pengecualian kali ya, karena ada halangan). Tapi saran banget buat kamu yg mau ikut, datang jauh2 hari. Eh, maksudnya jauh2 jam, biar nggak kemrungsung *jawane metu. Akhirnya, kami yang berjumlah 21 orang, mulailah dipanggili satu per satu untuk presentasi. Jadi ternyata presentasinya itu kayak interview kemarin, enggak di hadapan banyak orang. And we had to present it by English. Sambil nunggu giliran, aku banyak ngobrol sama Fadhila, sama Mbak Gina, dan beberapa peserta lainnya. Oh ya, sembari nunggu aku nyempatin fotokopi satu dokumen yang kurasa lumayan penting. Begitu nyari di dua tempat fotokopian ternyata tutup semua. Oke, nggak boleh nyerah, Eki, cari lagi! Waktu masih banyak. Kamu nomor urut 20 kok. Dan akhirnya taraaa, nemu fotokopian di belakang Jogja Tronik. Terimakasih buat Bapak tukang becak yang sudah kasih info :) . Begitu selesai fotokopi, waktu perjalanan balik ke lokasi, mendadak motorku macet. Ternyata rantainya lepas. Aku langsung kebingungan dong, dan akhirnya langsung aja deh aku titipin itu motor ke mbak-mbak yang jual jus buah. Dan aku ke Balai Pemuda nya naik Go-Jek.

Singkat cerita, aku sampai di Balai Pemuda dgn selamat dan dapat giliran habis Asar. Hal-hal yang aku inget waktu presentasi itu adalah ketika aku ditanyain beberapa hal terkait videoku. Ini asli apa nggak? Kamu sendiri yang buat? Coba perlihatkan mana video mentahannya. Karena semua original aku yang buat, alhamdulillah aku bisa tunjukin semua bukti. Termasuk ketika dicek tanggalnya, aku jujur kalau itu aku buat 3 hari full. Nggak ada yg file lama, termasuk timelapse sunrise di Kretek Parangtritis, semua fresh masih baru. Waktu ditanya, “Did you feel this challenge needs ‘extra miles’?” Aku jawab, “Yeah. Because I never did this before. I mean, before Subuh I had to go to Parangtritis to take sunrise footage, then, in the afternoon I went to Kaliurang Street for taking another scene, and in the night I had to edit the video until Subuh again. I didn’t sleep for this project. Oh ya, I slept just for 1 hour. And in the next Friday morning, I had to take the other pictures for completing my video.”. Dari sesi ini ada juga pertanyaan tentang promoting Jogja in international level, kira-kira efektif nggak mempromosikan Jogja melalui video di Youtube? Ya aku jawab cukup efektif, kalau video itu bisa dibuat secara konsisten dan tidak hanya satu video saja, artinya harus banyak video dan kalau bisa ceritanya berlanjut. Ini berdasarkan pengalamanku bikin video tentang perjalanan di Malaysia. Aku bikin part 1 sampai part 4 dan ternyata banyak yang nonton.

Setelah presentasi selesai, kami diizinkan pulang. Nah, di perjalanan pulang ini aku menemukan satu pelajaran penting dari salah seorang temen yang tadi lumayan banyak ngobrol sama aku. Namanya Fad, berasal dari kata Fadhila. Berhubung motorku aku titipin di tukang jus, akhirnya aku ke tukang jus nebeng Fad. Begitu sampai, aku nyuruh Fad pulang, biar nanti aku dijemput sama Bapak aja, soalnya kalau mau benerin motor udah banyak bengkel yang tutup karena udah maghrib. Tapi Fad belum mau pulang. Katanya mending dibenerin aja, cari bengkel yang masih buka. Karena Fad mau nemenin, akhirnya maghrib itu kita muter-muter cari bengkel. Begitu nemu bengkel di deket lampu merah, rencana mau bawa motor ke bengkel itu, entah kenapa aku tiba-tiba inisiatif buat benerin sendiri dulu. Nanti kalau nggak bisa, baru dibawa ke bengkel. Begitu aku coba beberapa kali, ternyata bisa. Rantainya lepas nggak parah, jadi gampang benerinnya. Waktu itu aku bener-bener ngerasa bersyukur banget. Satu ilmu baru tentang benerin rantai motor. Terlebih dengan adanya Fad, aku bener-bener ngerasa terbantu. Padahal dia termasuk orang yang baru aku kenal, tapi dia begitu tulus nolong orang. Akhirnya malam itu aku tutup dengan gumaman rasa syukur, terimakasih Allah... terimakasih Fad :)

bersambung...

Sebelumnya : Seleksi Interview PPAN 2018
Selanjutnya : Seleksi Final PPAN 2018, Menegangkan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar