22 Januari 2017

Film Favorit : Antara Fantasi, Logika, dan Hikmah

Oke, it’s time to talk about movie, yay? Kalau kemarin galau-galauan, kalau sekarang seru-seruan aja. Kata orang, film favorit itu menggambarkan karakter orang yang nonton. Yaa sebenarnya nggak cuma film sih, cara berpakaian, cara berbicara, buku favorit, warung atau cafe favorit, dan semua hal yang dilakukan itu bisa menggambarkan karakter atau sifat orang itu. Well, meskipun aku “orang timur” tapi aku nggak begitu suka berbasa-basi, so langsung aja to the point, 3 impressive movies in my notion is :

  •  Harry Potter
Kayaknya udah nggak diragukan lagi ya tentang film ini, nggak heran juga banyak yang suka. Alasannya apa? Of course, it is different than another one. Jarang ada kan, film fantasi yang bisa sampai 7 episode? Narnia aja cuma sampai 4. Ah ya, Star Wars sampai 12, ya? Tapi, berhubung aku belum pernah nonton Star Wars (kalau mau ngetawain aku tentang ini nggak pa-pa) jadi yaa belum bisa membandingkan. So cuma bisa bilang Harry Potter lah yang terbaik.
Pertama, karena fantasi. Aku suka dunia fantasi. Sejak kecil aku sering berimajinasi, pura-pura jadi Power Ranger, jadi bidadari, jadi orang yang punya kekuatan super, atau kamu tahu film Amigos? Nah, aku sampai berimajinasi punya kekuatan seperti Ana (pemeran utama cewek) yang bisa menggerakkan benda hanya dengan konsentrasi dan tanpa menyentuhnya. Aku sampai berulang kali mencobanya, dan hasilnya... excellent! Gagal. Atau lorong waktu di Amigos itu, aku sampai menggunakan tangga dari kayu dan berimajinasi bahwa tangga itu adalah lorong waktunya. Barang siapa menerobos tangga itu, berarti dia akan terlempar ke masa lalu *imajinasi banget. Begitu juga dengan film Harry Potter. Aku membayangkan bahwa dunia sihir itu memang benar-benar ada. Peron ¾ yang ada di stasiun itu, barangkali memang ada? Haha. Atau berbagai mantera yang aneh-aneh, aku sampai harus berpikir dapat ide dari mana, ya, penulisnya sampai kepikiran mantera Ridiculous untuk membuat lucu hal-hal yang orang-orang takuti, atau Avada Kedavra yang bisa mematikan orang, atau Sectum Sempra yang bisa membuat orang berdarah-darah, dan sebagainya. Pokoknya, the best lah untuk serial Harpot ini.

  •  National Treasure
Kenapa National Treasure? Menurutku, ini salah satu film yang pasca menontonnya aku bisa bilang, “WAW!” sambil berdecak heran. Kok bisa, ya? Pengarangnya itu loh, makan apa, ya? Bisa bikin ide cerita yang keren bingit! Nalarnya juga menurutku suitable banget. Dari mulai kecurigaan bahwa harta karun itu ada, lalu disambungkan logikanya dengan perang zaman dulu bahwa harta rampasan perang itu masih di simpan di sebuah tempat. Lalu yang semakin membuat berdecak kagum adalah ketika kode demi kode harus dipecahkan untuk menemukan harta karun itu, dari mulai kode berupa jam pada uang kertas di negara itu, sehingga si aktor harus menuju jam besar tepat pada jam yang tertera di uang. Lalu kode yang ada di balik script deklarasi, itu semua logikanya benar-benar main, sampai aku berpikir, “jangan-jangan emang ada kode kayak gitu ya di balik script deklarasi itu?” haha, bodoh. Tapi karena semua kekaguman akan logika, alur cerita, dan semuanya aja, itulah yang bikin aku standing applause untuk film ini.

  • Ayat-Ayat Cinta
Memang banyak kontroversi sih tentang film ini. Tidak sedikit juga yang mengatakan bahwa novelnya lebih bagus dari filmnya. Tapi untuk aku pribadi, aku cukup suka dengan jalan dan ide cerita film Ayat-Ayat Cinta ini. Apa mungkin karena aku belum baca novelnya? Emm, sebenarnya pernah baca sih, tapi belum semua, hanya sekilas-sekilas. Dan aku rasa aku kurang suka beberapa part di novel yang bagian menyebut “wahai istriku” atau “wahai suamiku” atau adegan-adegan romantis lain yang menurutku too much, karena di kehidupan nyata kayaknya suami istri nggak segitunya amat cara ngomongnya *siap-siap digampar fansnya Habiburrahman. Tapi yaa, sekali lagi ini karena aku belum baca semua sih, mungkin menurutmu beda? It’s ok. Balik ke alasan kenapa suka film Ayat-Ayat Cinta? Nggak tahu kenapa, ya, itu mengesankan aja buatku. Mungkin karena saat itu Ayat-Ayat Cinta hadir sebagai film romance Islami di tengah-tengah film biasa pada umumnya, di mana saat itu aku menginginkan sebuah film yang bisa menjadi teladan, bukan hanya tontonan menyesatkan. Dan Ayat-Ayat Cinta berhasil menjawab harapanku. Aku mulai mengenal sosok Fahri yang itu masyaallah banget, sampai berharap punya gebetan macam Fahri. Atau Aisyah, gadis bercadar yang bisa menjaga tingkah lakunya, menjaga cara bergaulnya dengan laki-laki sebagai seorang muslimah. Lalu kisah sederhana tentang sebuah pernikahan yang tanpa didahului dengan pacaran layaknya anak-anak muda zaman sekarang, itu semua benar-benar menginspirasi. Didukung dengan kalimat-kalimat manis nan tulus seorang Fahri ketika Aisyah memintanya untuk menikahi Maria, di mana saat itu Fahri berkata (ini aku inget banget ya Allah), “Aku tidak bisa, Aisyah. Aku hanya mencintaimu.” itu benar-benar sweeeeet! Langka, euy! Coba lelaki zaman sekarang ditawari istrinya untuk berpoligami, senangnya bukan main, kan? Ah ya, paling orang-orang tertentu yang akan berpikir dua kali tentang konsep keadilan dan mempertimbangkan baik-buruknya pernikahan rangkap itu. Jadi menuruku, Ayat-Ayat Cinta ini menjadi salah satu film paling berkesan karena hikmah ceritanya.

So, begitu ya teman-teman. Berhubung waktu sudah malam, dan saya terlambat mengumpulkan naskah ini, jadi yaa langsung kita sudahi saja. Wassalam.

Pare, Kediri, 24 Januari 2017.
Ditulis dalam rangka Kampus Fiksi Writing Challenge #10DaysKF.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar